Karakter pemilik baso ini dimanifestasikan dengan lantang pada menu yang ditawarkan. Them Fuck, demikian ia biasa dipanggil. Anak-anak Bandung mengenalnya sebagai vokalis band bising, Jeruji. Karakter Them Fuck dan musik Jeruji harus diakui bisa kita temukan pada Baso Mastato. Pedas menyengat tapi bikin enjoy lidah. Bahkan nama Mastato sendiri diambil dari sosok sang pemilik yang badannya penuh dengan tato.

Baso Mastato mengusung tagline Eat with Pride. Mengingatkan kita pada salah satu lagu beken dari Jeruji, Bandung Pride. Them Fuck mengusung tagline itu karena memang Baso Mastato dibuat dengan hati sehingga menimbulkan kebanggaan ketika konsumen merasa senang. “Semua konsumen bisa melihat sendiri secara langsung bagaimana saya meracik setiap menu. Dengan begitu konsumen tahu esensi yang mereka makan,” tutur Them Fuck saat ditemui awal Desember 2014.

Ya, di kedai Baso Mastato, pengunjung memang bisa melihat langsung ketika Them Fuck menyiapkan setiap menu yang dipesan. Itu karena Bakso Mastato mendesain kedainya dengan konsep open kitchen. Kedai Baso Mastato sendiri sangat mudah dikenali. Ketika lewat Jalan Ternate, Bandung, kita bisa melihat sebuah mobil VW Combi bercat marun tua. Itulah etalase Baso Mastato yang membuat gampang dikenali.

Berjualan sejak Maret 2013, awalnya kedai Baso Mastato menempati trotoar di Jalan Ternante No. 10. Tapi November 2014, Pemkot Bandung melakukan penataan trotoar di kawasan tersebut. Kedai Baso Mastato pun sedikit bergeser jadi ke dalam.

Baso Mastato kini jadi salah satu bakso favorit di Bandung. Setiap hari kedai mereka selalu ramai pengunjung. Jadwal buka saban hari mulai pukul 13.00 sampai 20.00 pun kadang hanya sebatas jadwal. Sebab, dagangan mereka sudah keburu habis selepas Magrib. “Alhamdulillah pergeseran tempat tidak ada pengaruhnya,” ujar Them Fuck.

Karena menjadi favorit, Them Fuck banyak menerima tawaran kerja sama. Awalnya ia bersikukuh menolak buka cabang, karena ingin fokus memantapkan kedainya yang di Jalan Ternate. Namun semakin hari tawaran kerja sama semakin banyak. Ia pun memberlakukan semacam sistem waralaba bagi hasil. Kini beberapa cabang baru siap dibuka. Setelah yang terbaru di Jatinangor, menyusul Cimahi dalam waktu dekat. Belum lagi di sejumlah daerah seperti Jakarta dan Bali.

Menu Baso Mastato memang memiliki keunikan yang tidak ditemukan pada basa kabanyak. Pada menu Ramen Katsu Baso, misalnya, kita bisa menemukan campuran cita rasa lokal dan Jepang. Baso yang dibakar terlebih dahulu dipadukan dengan chicken katsu, lalu disajikan dalam kuah ramen yang pedas, terasa pecah di lidah.

Satu tips bagi pengunjung jika ingin menikmati Baso Mastato. Datanglah lebih awal. Apalagi jika akhir pekan, jangan harap bisa kebagian jika datang selepas Isya.

Related Posts