Bandung — Konferensi Asia Afrika diadakan pertama kali tahun 1955 menjadi tonggak penting dalam sejarah negara di Asia dan Afrika. Para delegasi yang berasal dari negara peserta konferensi berkumpul di Bandung untuk membahas perdamaian, keamanan, dan pembangunan ekonomi di tengah-tengah berbagai masalah yang muncul di berbagai belahan dunia.

Konferensi ini di gagas oleh beberapa negara, yaitu  Burma (Myanmar), India, Indonesia, Pakistan, dan Sailan (Sri Lanka) untuk menyelenggarakan Konferensi Asia Afrika (KAA). Kelima negara ini mengajak negara-negara lain di Asia, Afrika, dan Timur Tengah untuk menciptakan etos baru hubungan antara bangsa-bangsa, yang disebut “Bandung Spirit”. Para pemimpin di KAA juga mendeklarasikan “Dasasila Bandung” yang mencerminkan komitmen bangsa-bangsa untuk mempraktekkan toleransi dan kedamaian hidup satu sama lain sebagai tetangga yang baik.

Setelah terakhir kali dilaksanakan pada tahun 2005, satu dekade kemudian Konferensi Asia Afrika kembali diakan di kota Jakarta dan Bandung pada tanggal 19 April – 24 April 2015.  Para pemimpin negara di Asia dan Afrika seakan diajak kembali untuk bernostalgia di kota Bandung, yang juga bisa dikatakan sebagai Ibu kota Asia dan Afrika, kota dimana para pemimpin sebelumnya berkumpul untuk merumuskan tentang perdamaian dunia yang dituangkan di dalam Dasasila Bandung.

Untuk memperingati Konferensi Asia Afrika tahun 2015, banyak kegiatan yang dilakukan di kota Jakarta dan Bandung. Di kota Jakarta dilakukan beberapa pertemuan antara para pejabat tinggi, menteri,  dan juga para kepala negara. Sedangkan di kota Bandung dilakukan peringatan Konferensi Asia Afrika yang dilakukan di gedung bersejarah yaitu gedung Merdeka, tempat dimana Konferensi Asia Afrika pertama kali dilakukan.

Selain pertemuan kenegaraan, kota Bandung menyuguhkan berbagai macam acara untuk memperkenalkan berbagai macam budaya dan kesenian yang dimiliki oleh negara di Asia dan Afrika, mulai dari performance dan juga parade kesenian setiap negara Asia dan Afrika.

Related Posts